Inflasi
1. Pengertian Inflasi
Inflasi dianggap sebagai fenomena moneter karena terjadinya penurunan nilai unit penghitungan moneter terhadap suatu komoditas. Campbell R. McConnell dan Stanley L. Brue mengemukakan inflasi adalah a rise in the general level of prices , Berarti inflasi merupakan kenaikan harga secara umum dari barang/ komoditas dan jasa selama periode waktu tertentu. Kenaikan harga tersebut dimaksudkan bukan terjadi sesaat, misalnya harga barang-barang naik menjelang lebaran atau hari libur lainnya. Karena ketika lebaran usai harga barang kembali ke konsidi semula maka harga seperti itu tidak dianggap sebagai inflasi. Inflasi juga berkaitan dengan kenaikan harga secara umum, artinya kenaikan harga satu jenis barang maupun jasa juga tidak termasuk termasuk inflasi , misalnya pada musim lebaran harga tiket pesawat naik.
Taqyuddin Ahmad ibn al-Maqrizi (1364-1441)
menyatakan seperti yang dikutip Euis Amalia dalam bukunya Sejarah Pemikiran
Ekonomi Islam dari Masa Klasik Hingga Kontemporer, bahwa inflasi terjadi ketika
harga-harga secara umum mengalami kenaikan yang berlangsung secara terus
menerus. Pada saat itu persediaan barang dan jasa mengalami kelangkaan,
sementara konsumen harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk sejumlah barang
dan jasa yang sama.
2.
Penyebab Terjadinya Inflasi
Dalam sejarah moneter, awal munculnya inflasi
adalah mulai diberlakukannya dan beredarnya mata uang dinar dan dirham campuran
(tidak murni) serta fulus sebagai mata uang pokok. Kemudian dimasa sekarang
fenomena inflasi semakin bertambah dengan diterapkannya mata uang kertas.
Sebetulnya hal ini telah diperingatkan oleh ulama seperti Imam Syafi’i yang
melarang pemerintah mencetak dirham yang tidak murni karena akan merusak nilai
mata uang, menyebabkan naiknya harga dan hal itu merugikan orang banyak serta
menimbulkan kerusakan-kerusakan. Ibnu Taimiyah (1263-1328) pada masa Daulah
Bani Mamluk juga telah memperingatkan keadaan ini, ia menyatakan bahwa uang
yang berkualitas buruk akan menyingkarkan mata uang berkualitas baik dari
peredaran. Apabila fulus dibiarkan beredar sebagai alat tukar maka niscaya
dinar dan dirham akan menghilang dari peredaran.
Inflasi
bisa terjadi disebabkan oleh factor-faktor non meneter seperti bencana alam,
banjir yang mengakibatkan terjadinya penurunan produksi bahan kebutuhan pokok
mapun rusaknya infrastruktur jalan dan sebagainya sehinga berakibat pada
terhambatnya distribusi bahan kebutuhan ke beberapa daerah. Inflasi juga bisa
disebabkan oleh factor non moneter lainnya seperti lambannya respon pemerintah
mengantisipasi terjadinya inflasi. Seperti yang dikemukakan Ryan Kiryanto,
ekonom senior BNI pada Diskusi yang bertajuk “Peranan Bank Sentral dalam
Kebijakan Stabilitas Moneter” di Jakarta tanggal 13 Maret 2007, proses politik
Indonesia yang rumit, lambatnya keputusan impor beras karena belum disetujui
DPR, mendorong terjadinya inflasi bulan Januari 2007 yang tercata sebesar 1,77%
yang diakibatkan oleh kenaikan harga beras.
Secara
umum penyebab terjadinya inflasi menurut ekonomi Islam seperti yang dikemukakan
al-Maqrizi adalah:
1.
Natural
inflation yaitu inflasi yang terjadi karena sebab-sebab alamiah, manusia
tidak punya kuasa untuk mencegahnya. Inflasi ini adalah inflasi yang
diakibatkan oleh turunnya penawaran agregatif (AS↓) atau naiknya permintaan
agregatif (AD↑). Ketika bencana alam terjadi berbagai bahan makanan, dan hasil
bumi lainnya mengalami gagal panen, sehingga persediaan barang-barang kebutuhan
tersebut mengalami penurunan dan terjadi kelangkaan. Di pihak lain, karena
barang-barang itu sangat signifikan dalam kehidupan, permintaan terhadap
berbagai barang mengalami peningkatan. Harga-harga melambung tinggi jauh
melebihi daya beli masyarakat. Akibatnya kegiatan ekonomi mengalami kemacetan
bahkan berhenti sama sekali yang pada akhirnya menimbulkan bencana kelaparan,
wabah penyakit, kematian. Keadaan ini memaksa rakyat untuk menekan pemerintah
agar memperhatikan mereka. Untuk menanggulangi bencana ini, pemerintah
mengelurakan dana besar yang mengakibatkan perbendaharaan negara menjadi
berkurang secara drastic atau deficit anggaran.
Jika memakai persaman MV = PQ
Jika memakai persaman MV = PQ
Maka
natural inflasi dapat diartikan sebagai: Pertama, Gangguan terhadap jumlah
barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu perekonomian (Q). Jika jumlah
barang dan jasa yang diproduksi menurun (Q↓) sedangkan jumlah uang beredar (M)
dan kecepatan peredaran uang (V) tetap maka konsekwensinya tingkat harga
naik(P↑). Kedua, Naiknya daya beli masyarakat secara riil. Misalnya nilai
ekspor lebih besar dari nilai import, sehingga secara netto terjadi impor uang
yang mengakibatkan jumlah uang beredar menurun (M↓), jika kecepatan peredaran
uang (V) dan jumlah barang dan jasa(T) tetap maka terjadi kenaikan harga (P↑).
Natural
inflation dapat dibedakan berdasarkan penyebabnya menjadi dua yaitu: pertama,
Uang yang masuk dari luar negeri terlalu banyak karena ekxpor meningkat (X↑)
sedangkan impor menurun (M↓) sehingga net export nilainya sangat besar yang
mengakibatkan naiknya permintaan agregatif (AD↑). Keadaan ini pernah terjadi
pada masa Umar ibn Khatab, pada masa itu ekportir yang menjual barangnya ke
luar negeri membeli barang-barang dari luar negeri (impor) lebih sedikit
jumlahnya dari barang yang mereka jual (positive net export). Adanya positive
net export akan menjadikan keuntungan yang berupa kelebihan uang yang akan
dibawa ke Madinah sehingga pendapatan dan daya beli masyarakat meningkat (AD↑).
Naiknya permintaan agregat (AD↑) akan mengakibatkan naiknya tingkat harga (P↑)
secara keseluruhan. Untuk mengatasi keadaan ini Umar melarang penduduk Madinah
untuk membeli barang-barang atau komoditi selama 2 hari berturut-turut,
akibatnya terjadi penurunan permintaan agregatif (AD↓), dan tingkat harga
kembali normal. Kedua, Turunnya tingkat produksi (AS↓) karena terjadinya
paceklik, perang ataupun embargo ekonomi. Masa paceklik ini pernah terjadi pada
masa Umar ibn Kahatab yang mengakibatkan kelangkaan gandum yang berdampak pada
naiknya tingkat harga-harga (P↑)
2. Human error inflation yaitu inflasi
yang terjadi karena kesalahan manusia. Inflasi yang disebabkan oleh human error
inflation terjadi karena:
a. Corruption and bad administration
(korupsi dan buruknya administrasi)
Pengangkatan para pejabat yang berdasarkan suap, nepotisme, dan bukan karena kapabilitas akan menempatkan orang-orang pada berbagai jabatan penting dan terhormat yang tidak mempunyai kredibilitas. Mereka yang mempunyai mental seperti ini, rela menggadaikan seluruh harta milik untuk meraih jabatan, kondisi ini juga akan berpengaruh ketika mereka berkuasa, para pejabat tersebut akan menyalahgunakan kekuasaannya untuk meraih kepentingan pribadi, baik untuk menutupi kebutuhan finasial pribadi atau keluarga atau demi kemewahan hidup. Akibatnya akan terjadi penurunan drastis terhadap penerimaan dan pendapatan Negara.
Pengangkatan para pejabat yang berdasarkan suap, nepotisme, dan bukan karena kapabilitas akan menempatkan orang-orang pada berbagai jabatan penting dan terhormat yang tidak mempunyai kredibilitas. Mereka yang mempunyai mental seperti ini, rela menggadaikan seluruh harta milik untuk meraih jabatan, kondisi ini juga akan berpengaruh ketika mereka berkuasa, para pejabat tersebut akan menyalahgunakan kekuasaannya untuk meraih kepentingan pribadi, baik untuk menutupi kebutuhan finasial pribadi atau keluarga atau demi kemewahan hidup. Akibatnya akan terjadi penurunan drastis terhadap penerimaan dan pendapatan Negara.
Korupsi
akan mengganggu tingkat harga, karena para produsen akan menaikkan harga jual
barangnya untuk menutupi biaya-biaya siluman yang telah mereka keluarkan.
Dimasukkannya biaya siluman dalam biaya produksi (cost of goods sold) akan
menaikkan total biaya produksi. ATC dan MC menjadi ATC2 dan MC2. Sehingga harga
jual menjadi naik dari P menjadi P2. Hal ini menjadi tidak mereflleksikan nilai
sumber daya sebenarnya yang digunakan dalam proses produksi. Harga yang terjadi
terdistorsi oleh komponen yang seharusnya tidak ada sehingga lebih lanjut
mengakibatkan sekonomi biaya tinggi (high cost economy) pada akhirnya akan
terjadi inefisiensi alokasi sumber daya yang tentu akan merugikan masyarakat
secara keseluruhan.
Keadaan
seperti inilah yang sebetulnya membuat perkonomian Indoensia semakin terpuruk.
Virus Korupsi dan buruknya administrasi ini mewabah mulai dari pejabat tinggi
sebagai pemegang otoritas tertinggi sampai ke tingkat lurah/desa. Di mana-mana
setiap berurusan dengan administrasi dan birokrasi selalu ada uang siluman.
Keadaan inipun sampai ketingkat pedagang kecil, uang takut/keamanan yang
dipungut preman jelas merugikan masyarakat.
b. Excessive tax (pajak yang tinggi)
Akibat
dari banyaknya pejabat pemerintahan yang bermental korup, pengeluaran negara
mengalami peningkatan yang sangat drastis, sebagai kompensasi mereka menerapkan
system perpajakan tinggi dan menerapakan berbagai jenis pajak. Efek yang
ditimbulkan oleh pajak yang berlebihan pada perekonomian hampir sama dengan
dengan efek yang ditimbulkan oleh korupsi dan buruknya administrasi yakni
efisensi loss atau dead weigh loss. Konsekwensinya biaya-biaya produksi
meningkat, dan akan berimplikasi pada kenaikan harga barang produksi.
c. Excessive sieignore (percetakan uang
berlebihan)
Ketika
terjadi defisit anggaran baik sebagai akibat dari kemacetan ekonomi, maupun
perilaku buruk para pejabat yang menghabiskan uang negara, pemerintah melakukan
percetakan uang fulus secara besar-besaran. Menurut al-Maqrizi seperti yang
dikutip Adiwarman Azwar Karim, percetakan uang yang berlebihan akan
mengakibatkan naiknya tingkat harga (P↑), menurunnya nilai mata uang secara
drastis, akibatnya uang tidak lagi bernilai. Menurut al-Maqrizi kenaikan harga
komoditas adalah kenaikan dalam bentuk jumlah uang fulus, sedangkan jika diukur
dengan emas (dinar ), harga-harga komoditas itu jarang sekali mengalami
kenaikan. Uang sebaiknya dicetak hanya pada tingkat minimal yang dibutuhkan
untuk bertaransaksi dan dalam pecahan yang mempunyai nilai nominal yang kecil.
Di Negara-negara industry pada umumnya
inflasi bersumber dari salah satu atau gabungan dari dua masalah berikut:
pertama, Tingkat pengeluaran agregat yang melebihi kemampuan
perusahaan-perusahaan untuk menghasilkan barang-barang dan jasa. Keinginan
untuk mendapatkan barang yang mereka butuhkan akan mendorong para konsumen
meminta barang itu pada harga yang lebih tinggi. Sebaliknya para pengusaha akan
menahan barangnya dan hanya menjual kepada pembeli-pembeli yang bersedia
membayar pada harga yang lebih tinggi. Kedua kecenderungan ini akan menyebabkan
kenaikan harga-harga. Kedua, Pekerja-pekerja di berbagai kegiatan ekonomi
menuntut kenaikan upah. Apabila para pengusaha menghadapi kesukaran dalam
mencari tambahan tenaga kerja untuk meningkatkan produksinya, pekerja-pekerja
yang ada akan terdorong untuk meminta kenaikan upah. Apabila kenaikan upah
berlaku secara meluas, akan terjadi kenaikan biaya produksi dari berbagai
barang dan jasa yang dihasilkan dalam perekonomian. Kenaikan biaya produksi
tersebut akan mendorong perusahaan-perusahaan menaikkan harga-harga barang
mereka. Di dalam perekonomian yang sudah maju, masalah inflasi sangat erat
kaitannya dengan tingkat penggunaan tenaga kerja.
Di
samping itu inflasi dapat pula berlaku sebagai akibat dari 1) Kenaikan harga
barang impor, 2) Penambahan penawaran uang yang berlebihan tanpa diikuti oleh
penambahan produksi dan penawaran barang, 3) Kekacauan politik dan ekonomi
sebagai akibat pemerintahan yang kurang bertanggungjawab. Selain karena
peningkatan uang beredar, peningkatan permintaan juga disebabkan oleh expected
inflation. Bila masyarakat meyakini bahwa inflasi di tahun ini akan tinggi,
masyarakat cenderung membelanjakan uangnya saat ini untuk membeli dan menyimpan
barang, terutama barang-barang yang bisa melindungi kekayaan dari inflasi misalnya
emas dan property. Akibatnya, inflasi jadi melambung.
Inflasi juga bisa terjadi karena
masyarakat ingin hidup di luar batas kemampuannya. Keterbatasan kekayaan yang
dimiliki menyebabkan masyarakat menggunakan kartu kredit untuk melakukan
belanja. Penggunaan kartu kredit untuk konsumsi merupakan upaya belanja dengan
menggunakan kekayaan yang diharapkan akan diterima di masa datang. Hal ini
menyebabkan bertambahnya uang yang beredar yang melebihi pendapatan yang
bersangkutan yang mendorong terjadinya inflasi.
D. Jenis Inflasi
Inflasi
dalam ilmu ekonomi konvensional dapat digolongkan dengan beberapa cara:
1. Inflasi
dapat digolongkan menurut besarnya, yaitu a) Inflasi ringan atau low inflation,
yang disebut juga dengan inflasi satu dijit (single digit inflation) yaitu
inflasi di bawah 10 % per tahun. Inflasi ini masih dianggap normal. Dalam
rentang inflasi ini orang masih percaya pada uang dan masih mau memegang uang.
b) Inflasi sedang atau galloping inflation atau double digit bahkan triple
digit inflation yakni inflasi antara 20 % sampai 200 % pertahun. Inflasi
seperti ini terjadi karena pemerintah lemah, perang, revolusi dan kejadian lain
yang menyebabkan barang tidak tersedia sementara uang berlimpah, sehingga orang
tidak percaya pada uang. Pada saat seperti ini orang hanya mau memegang uang
seperlunya saja, sedangkan kekayaan disimpan dalam bentu asset-aset rill. Orang
akan menumpuk barang-barang, membeli rumah dan tanah. Pasar uang akan mengalami
penyusutan dan pendanaan akan dialokasikan melalui cara-cara selain dari
tingkat bunga serta orang tidak akan mau memberikan pinjaman kecuali dengan
tingkat bunga yang tinggi. c) Hyperinflation yaitu inflasi di atas 200% per
tahun. Dalam keadaan seperti ini, orang tidak percaya pada uang. Lebih baik
membelanjakan uang dan menyimpan dalam bentuk barang seperti emas, tanah,
bangunan, karena barang-barang jenis ini kenaikan harganya setara dengan
inflasi. Inflasi yang sangat berbahaya ini muncul sebagai akibat dari ;
pertama, Munculnya kehancuran social dan runtuhnya aktivitas perekonomian,
kedua, Ketidakmampuan pemerintah untuk mengamankan situasi serta kehilangan
kekuasaan terhadap rakyat, ketiga, Terjadinya perang yang menghancurkan,
seperti yang terjadi terhadap mata uang Irak setelah perekonomian negara tersebut
dibeikot dan diserang Amarika dan sekutunya.
2.
Berdasarkan sumber inflasi, inflasi terbagi kepada:
a. Inflasi karena tarikan permintaan (demand
pull inflation) , yaitu Kenaikan harga-harga karena tingginya permintaan,
sementara barang-barang tidak tersedia sehinga harga naik. b) Inflasi karena dorongan biaya (cost push
inflation), yaitu inflasi karena biaya atau harga factor produksi seperti
upah buruh meningkat sehingga produsen harus menaikkan harga supaya mendapatkan
laba dan produksi bisa berlangsung terus.
3. Berdasarkan asal inlasi, inflasi dapat dikategorikan kepada: a) Domestik inflation yaitu inflasi yang bersumber dari dalam negeri. Misalnya permintaan meningkat untuk barang tertentu, maka terjadi demand pull inflation yang berasal dari dalam negeri. Atau terjadi kenaikan harga factor produksi yang diimpor maka terjadi cost push inflation yang bersumber dari luar negeri atau import cost push inflation. b) Foreign atau imported inflation, yaitu inflasi yang bersumber dari luar negeri. Misalnya terjadi lonjakan permintaan ekspor secara terus menerus, maka terjadi demand pull inflation yang berasal dari luar negeri. Atau terjadi kenaikan harga factor produksi yang diimpor maka terjadi cost push inflation yang bersumber dari luar negeri atau imported cosh push inflation.
3. Berdasarkan asal inlasi, inflasi dapat dikategorikan kepada: a) Domestik inflation yaitu inflasi yang bersumber dari dalam negeri. Misalnya permintaan meningkat untuk barang tertentu, maka terjadi demand pull inflation yang berasal dari dalam negeri. Atau terjadi kenaikan harga factor produksi yang diimpor maka terjadi cost push inflation yang bersumber dari luar negeri atau import cost push inflation. b) Foreign atau imported inflation, yaitu inflasi yang bersumber dari luar negeri. Misalnya terjadi lonjakan permintaan ekspor secara terus menerus, maka terjadi demand pull inflation yang berasal dari luar negeri. Atau terjadi kenaikan harga factor produksi yang diimpor maka terjadi cost push inflation yang bersumber dari luar negeri atau imported cosh push inflation.
4.
Berdasarkan harapan masyarakat, inflasi dapat dikategorikan menjadi dua yaitu:
a) Expected inflation yaitu besar inflasi yang diharapkan atau diperkirakan
akan terjadi. Misalnya bila inflasi dari tahun 2001 sampai tahun 2006 konstan 6
%, kemudian besarnya inflasi yang dihargetkan tahun 2007 6,5 %. b) Unexpected
inflation yaitu inflasi yang tidak diperkirakan akan terjadi. Misalnya
diperkirakan inflasi tahun 2007 sebesar 6,5 %, kemungkinan besar inflasi tahun
2007 menyimpang dari 6,5 % menjadi 6,8%. Penyimpangan tersebut merupakan
unexpected inflation.
E. Akibat Terjadinya Inflasi
Inflasi mengandung implikasi bahwa uang
tidak dapat berfungsi sebagai satuan hitung yang adil dan benar. Inflasi
berakibat buruk pada perekonomian karena menimbulkan gangguan terhadap fungsi
uang. Hal itu menyebabkan uang menjadi pembayaran tertunda yang tidak adil dan
alat penyimpan kekayaan yang tidak dapat dipercaya. Inflasi menyebabkan orang
berlaku tidak adil terhadap orang meskipun tidak disadarinya dengan
memerosotnya daya beli asset-aset moneter secara tidak diketahui.
Orang harus melepaskan diri dari uang dari
asset keuangan sebagai akibat dari beban inflasi. Yang akhirnya juga
menyebabkan terjadinya inflasi kembali (self feeding inflation). Hal itu
merusak efisiensi system moneter. Inflasi melemahkan semangat menabung masyarakat
(menurunnya marginal propensity to save) dan meningkatkan kecenderungan
berbelanja terutama untuk kebutuhan non primer dan barang mewah. (naiknya
marginal propensity to consume) Inflasi memperburuk iklim ketidakpastian dimana
keputusan ekonomi di ambil, menimbulkan kekhawatiran pada formasi modal dan
menyebabkan mis alokasi sumber-sumber daya. Mengarahkan investasi pada hal-hal
yang non produktif yaitu menumpukkan kekayaan (hording) seperti tanah,
bangunan, logam mulia, mata uang asing dengan mengorbankan investasi ke arah
produktif seperti pertanian, industry, perdagangan dan lain sebagainya.
Inflasi adalah sebuah sindrom disekuilibrium (ketidak-seimbangan) dan tidak seirama dengan penekanan Islam pada keberimbangan dan ekuilibrium. Inflasi memiliki konsekwensi yang sama bagi Negara kaya atau miskin dalam merusak output dalam meruntuhkan efiensi dan investasi produktif dan menimbulkan ketidak-adilan dan ketegangan social.
Inflasi adalah sebuah sindrom disekuilibrium (ketidak-seimbangan) dan tidak seirama dengan penekanan Islam pada keberimbangan dan ekuilibrium. Inflasi memiliki konsekwensi yang sama bagi Negara kaya atau miskin dalam merusak output dalam meruntuhkan efiensi dan investasi produktif dan menimbulkan ketidak-adilan dan ketegangan social.
Adapun dampak yang ditimbulkan inflasi
adalah: 1) Redistribusi pendapatan dan kekayaan. Salah satunya adalah
redistribusi dari kreditur ke debitur. 2) Distorsi harga, pada inflasi rendah
membuat pembeli dan penjual menyadari inflasi tersebut dan bisa membedakan
perbedaan inflasi antar barang yang saling substitusi (misalnya daging dengan
telur), jadi bila harga daging lebih tinggi, orang beralih ke telur, namun pada
inflasi tinggi, orang tidak memahami perbedaan laju inflasi karena harga semua
barang naik. 3) Distorsi penggunaan uang. Setiap orang mengubah cara
menggunakan uang. Karena inflasi berarti menurunkan nilai riil uang, orang
cenderung menimalisasi jumlah uang yang dipegang. 4) Distrosi pajak. Semakin
tinggi inflasi, semakin tinggi beban pajak secara rill..
F. Solusi Inflasi Perspektif Ekonomi Islam
Secara teori, inflasi tidak dapat dihapus
dan dihentikan, namun laju inflasi dapat ditekan sedemikian rupa. Islam
sebetulnya pula solusi menekan laju inflasi seperti yang telah dikemukan oleh
tokoh-tokoh ekonomi Islam klasik. Misalnya al-Ghazali (1058-1111) menyatakan,
pemerintah mempunyai kewajiban menciptakan stabilitas nilai uang. Dalam ini
al-Ghazali membolehkan penggunaan uang yang bukan berasal dari logam mulia
seperti dinar dan dirham, tetapi dengan syarat pemerintah wajib menjaga
stabilitas nilai tukarnya dan pemerintah memastikan tidak ada spekulasi dalam
bentuk perdagangan uang.
Ibnu Taimiyah (1263-1328) juga mempunyai solusi terhadap inflasi ini. Ia sangat menentang keras terhadap terjadinya penurunan nilai mata uang dan percetakan uang yang berlebihan. Ia berpendapat pemerintah seharusnya mencetak uang harus sesui dengan nilai yang adil atas transaksi masyarakat, tidak memunculkan kezaliman terhadap mereka. Ini berarti Ibnu Taimiyah menekankan bahwa percetakan uang harus seimbang dengan trasnsaksi pada sector riil. Uang sebaiknya dicetak hanya pada tingkat minimal yang dibutuhkan untuk bertransaksi dan dalam pecahan yang mempunyai nilai nominal yang kecil.
Ibnu Taimiyah (1263-1328) juga mempunyai solusi terhadap inflasi ini. Ia sangat menentang keras terhadap terjadinya penurunan nilai mata uang dan percetakan uang yang berlebihan. Ia berpendapat pemerintah seharusnya mencetak uang harus sesui dengan nilai yang adil atas transaksi masyarakat, tidak memunculkan kezaliman terhadap mereka. Ini berarti Ibnu Taimiyah menekankan bahwa percetakan uang harus seimbang dengan trasnsaksi pada sector riil. Uang sebaiknya dicetak hanya pada tingkat minimal yang dibutuhkan untuk bertransaksi dan dalam pecahan yang mempunyai nilai nominal yang kecil.
Di samping itu ia juga menyatakan bahwa
nilai intrinsic mata uang harus sesuai dengan daya beli masyarakat. Penciptaan
mata uang dengan nilai nominal yang lebih besar dari pada nilai intrinsiknya
akan menyebabkan penurunan nilai mata uang serta akan memunculkan inflasi. Ini
berarti akibat dari rendahnya nilai intrinsic uang menjadi salah satu
terjadinya inflasi. Begitu juga pemalsuan mata uang dan perdagangan mata uang
di nilai ibn Taimiyah sebagai bentuk kezaliman terhadap masyarakat dan
bertentangan dengan kepentingan umum.
Husain Shahathah menawarkan beberpa solusi untuk mengatasi inflasi adalah; 1) Reformasi terhadap system moneter yang ada sekarang dan menghubungkan antara kuantitas uang dengan kuantitas produksi. 2) Mengarahkan belanja dan melarang sikap berlebihan dan belanja yang tidak bermanfaat. 3) Larangan menyimpan (menimbun) harta dan mendorong untuk menginvestasikannya. 4) Meningkatkan produksi dengan memberikan dorongan kepada masyarakat secara materil dan moral. Menjaga pasokan barang kebutuhan pokok merupakan yang krusial untuk bias mengendalikan inflasi.
Husain Shahathah menawarkan beberpa solusi untuk mengatasi inflasi adalah; 1) Reformasi terhadap system moneter yang ada sekarang dan menghubungkan antara kuantitas uang dengan kuantitas produksi. 2) Mengarahkan belanja dan melarang sikap berlebihan dan belanja yang tidak bermanfaat. 3) Larangan menyimpan (menimbun) harta dan mendorong untuk menginvestasikannya. 4) Meningkatkan produksi dengan memberikan dorongan kepada masyarakat secara materil dan moral. Menjaga pasokan barang kebutuhan pokok merupakan yang krusial untuk bias mengendalikan inflasi.
Dalam perekonomian sekarang Bank sentral
mempunyai peranan penting dalam mengendalikan inflasi. Bank sentral suatu
negara umumnya berusaha mengendalikan tingkat inflasi pada tingkat yang wajar.
Selain itu bank sentral juga berkewajiban mengendalikan tingkat nilai tukar
uang mata uang domestic. Saat ini pola inflation targeting banyak diterapkan
oleh bank sentral di seluruh dunia termasuk Indonesia.
