SEJARAH ABU TAUHID
(Bagaimana
Nabi Ibrahim diberi Gelar Abu Tauhid?)
Sebelum
kita bercerita lebih jauh tentang sejarah mengapa dan bagaimana Nabi Ibrahim
bisa di beri julukan Abu Tauhid, alangkah baiknya kita ketahui terlebih dahulu
apa itu tauhid. Tauhid adalah dasar ajaran islam yaitu mengesakan Allah SWT
dalam perkataan, keyakinan maupun perbuatan; menjadikan Allah satu-satunya yang
wajib ditaati, diibadahi, disembah, tempat meminta, mengabdi, menghamba,
bergantung dan berharap (Tauhid uluhiyah);
menjadikan Allah sebagai satu-satunya pencipta (kholiq), pemberi rezeki, dan
pemilik alam semesta ini (Tauhid
rububiyah); dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya sebagai raja (malik),
wali (pelindung, pemimpin, penolong), hakim (pembuat hukum), dan amir
(pemerintah).
Sebagaimana
yang tertuang dalam dua kalimat syahadat yang selalu kita lafadzkan dalam
shalat “AsyhaduAllaa ilaahaillallah wa Asyhaduanna Muhammadarrasuulullah” Kalimat
tersebut mengandung makna pernyataan,
sumpah (penguatan dan meyakinkan) serta janji. Begitu penting dan berartinya
tauhid itu, karena itu merupakan sebuah pondasi agama islam, bahkan Rasulullah
saja berdakwah sampai 13 tahun hanya untuk menanamkan tauhid di jiwa sahabatnya
dan umat islam lainnya. Lalu mengapa
Nabi Ibrahim yang diberi gelar Abu Tauhid?
Jika
kita melihat kepada kisah Nabi Ibrahim, banyak sekali yang menceritakan kisah
tentang beliau, bukan hanya tertuang
dalam Al-Qur’an kitabnya umat Islam, tetapi juga kitab-kitab samawi sebelum
Al-Qur’an seperti Kitab Zabur Nabi Daud, Kitab Taurat Nabi Musa, dan Kitab Injil Nabi Isa. Dan darinyalah lahir 3
agama besar yaitu : Yahudi, Nasrani dan Islam. Yahudi sebagai agama yang
bertuhan kepada Allah tetapi banyak dari golongannya yang kemudian menuhankan
orang shalih, beranggapan bahwa uzair adalah anak tuhan, sehingga konsep tauhid
itu menjadi berubah dan hilang. Begitu juga dengan umat Nasrani yang dahulunya
bertuhan hanya kepada Allah SWT, kemudian generasi berikutnya yang sampai sekarang
menyembah dan bertuhan kepada Nabi Isa, Maryam, dan Malaikat jibril. Kemudian
Islam, agama yang secara tegas mengakui bahwa tiada tuhan selain Allah, dan
Muhammad adalah utusan Allah SWT dan agama yang secara tegas menolak segala
bentuk kesyirikan.
Nabi Ibrahim diberi gelar sebagai Bapak Nabi-nabi (Abul Anbiya’),
Karena dari beliaulah lahir Nabi Ismail dan Ishaq yang kemudian melahirkan
nabi-nabi yang lain sampai kepada nabi yang terakhir yaitu Nabi Muhammad SAW.
Pada masa Nabi Ibrahim, sebagian besar penduduk daerahnya menyembah berhala,
bahkan ayahnya sendiri pun bekerja sebagai pembuat berhala. Ibrahim kecil bisa
merasakan kesesatan kaumnya, lalu Nabi Ibrahim berfikir dan merenung siapakah
tuhan yang sebenarnya?. Kemudian beliau melihat langit dan bintang-bintang,
beliau merasa kagum dan berfikir “inikah tuhanku?” ; .
Ketika malam menjadi
gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: 'Inilah Tuhanku,' tetapi
tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata: 'Saya tidak suka kepada yang
tenggelam.'" (QS. al-An'am: 74-76)
"Kemudian tatkala dia melihat sebuah bulan terbit dia
berkata: 'Inilah Tuhanku.' Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata:
'Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku
termasuk orang-orang yang sesat.'" (QS. al-An'am: 77)
"Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia
berkata: 'Inilah Tuhanku. Inilah yang lebih besar.' Maka tatkala matahari itu
terbenam, dia berkata: 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa
yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan
langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah
termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.'" (QS. al-An'am: 78-79)
Kemudian
beliau mulai berfikir bahwa bintang-bintang, bulan dan matahari yang semulanya
beliau anggap tuhan itu hanyalah sesuatu yang tidak kekal dan akan tenggelam.
Dan beliau berfikir bahwa semua benda-benda itu pastilah ada yang menciptakan,
lalu terjawablah semua pertanyaan beliau selama ini. Yaitu Allah, sang Maha
Pencipta Langit dan Bumi, penguasa seluruh semesta ini.
"Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata:
"Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah
telah memberi petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari)
sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali jika Tuhanku
menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala
sesuatu. Maka apakah kamu
tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) ? Bagaimana
aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah)
padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang
Allah sendiri tidak menurunkan hujah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka
manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari
malapetaka), jika kamu mengetahui)?'" (QS. al-An'am: 80-81)
"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukan
iman mereka dengan kelaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat
keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. " (QS.
al-An'am: 82)
"Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim
untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa
darjat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. " (QS.
al-An'am: 83)
Ibrahim
didukung oleh Allah SWT dan diperlihatkan kerajaan langit dan bumi. Demikianlah
proses pencarian dan pergelutan jiwa Nabi Ibrahim dalm mencari keberadaan
Tuhan, akhirnya beliau mendapatkan kebenaran yang hakiki.
NB : Salah satu tugas Ilmu Kalam semester 1
