Selasa, 16 Januari 2018




(Bagaimana Nabi Ibrahim diberi Gelar Abu Tauhid?)
Hasil gambar untuk nabi ibrahim abu tauhid

Sebelum kita bercerita lebih jauh tentang sejarah mengapa dan bagaimana Nabi Ibrahim bisa di beri julukan Abu Tauhid, alangkah baiknya kita ketahui terlebih dahulu apa itu tauhid. Tauhid adalah dasar ajaran islam yaitu mengesakan Allah SWT dalam perkataan, keyakinan maupun perbuatan; menjadikan Allah satu-satunya yang wajib ditaati, diibadahi, disembah, tempat meminta, mengabdi, menghamba, bergantung dan berharap (Tauhid uluhiyah); menjadikan Allah sebagai satu-satunya pencipta (kholiq), pemberi rezeki, dan pemilik alam semesta ini (Tauhid rububiyah); dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya sebagai raja (malik), wali (pelindung, pemimpin, penolong), hakim (pembuat hukum), dan amir (pemerintah).
Sebagaimana yang tertuang dalam dua kalimat syahadat yang selalu kita lafadzkan dalam shalat “AsyhaduAllaa ilaahaillallah wa Asyhaduanna Muhammadarrasuulullah” Kalimat tersebut mengandung makna  pernyataan, sumpah (penguatan dan meyakinkan) serta janji. Begitu penting dan berartinya tauhid itu, karena itu merupakan sebuah pondasi agama islam, bahkan Rasulullah saja berdakwah sampai 13 tahun hanya untuk menanamkan tauhid di jiwa sahabatnya dan umat islam lainnya. Lalu mengapa  Nabi Ibrahim yang diberi gelar Abu Tauhid?
Jika kita melihat kepada kisah Nabi Ibrahim, banyak sekali yang menceritakan kisah tentang beliau, bukan hanya  tertuang dalam Al-Qur’an kitabnya umat Islam, tetapi juga kitab-kitab samawi sebelum Al-Qur’an seperti Kitab Zabur Nabi Daud, Kitab Taurat Nabi Musa, dan  Kitab Injil Nabi Isa. Dan darinyalah lahir 3 agama besar yaitu : Yahudi, Nasrani dan Islam. Yahudi sebagai agama yang bertuhan kepada Allah tetapi banyak dari golongannya yang kemudian menuhankan orang shalih, beranggapan bahwa uzair adalah anak tuhan, sehingga konsep tauhid itu menjadi berubah dan hilang. Begitu juga dengan umat Nasrani yang dahulunya bertuhan hanya kepada Allah SWT, kemudian generasi berikutnya yang sampai sekarang menyembah dan bertuhan kepada Nabi Isa, Maryam, dan Malaikat jibril. Kemudian Islam, agama yang secara tegas mengakui bahwa tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah SWT dan agama yang secara tegas menolak segala bentuk kesyirikan.
Nabi Ibrahim diberi gelar sebagai Bapak Nabi-nabi (Abul Anbiya’), Karena dari beliaulah lahir Nabi Ismail dan Ishaq yang kemudian melahirkan nabi-nabi yang lain sampai kepada nabi yang terakhir yaitu Nabi Muhammad SAW. Pada masa Nabi Ibrahim, sebagian besar penduduk daerahnya menyembah berhala, bahkan ayahnya sendiri pun bekerja sebagai pembuat berhala. Ibrahim kecil bisa merasakan kesesatan kaumnya, lalu Nabi Ibrahim berfikir dan merenung siapakah tuhan yang sebenarnya?. Kemudian beliau melihat langit dan bintang-bintang, beliau merasa kagum dan berfikir “inikah tuhanku?” ; .

 Ketika malam menjadi gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: 'Inilah Tuhanku,' tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata: 'Saya tidak suka kepada yang tenggelam.'" (QS. al-An'am: 74-76)

"Kemudian tatkala dia melihat sebuah bulan terbit dia berkata: 'Inilah Tuhanku.' Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: 'Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.'" (QS. al-An'am: 77)

"Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: 'Inilah Tuhanku. Inilah yang lebih besar.' Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.'" (QS. al-An'am: 78-79)

Kemudian beliau mulai berfikir bahwa bintang-bintang, bulan dan matahari yang semulanya beliau anggap tuhan itu hanyalah sesuatu yang tidak kekal dan akan tenggelam. Dan beliau berfikir bahwa semua benda-benda itu pastilah ada yang menciptakan, lalu terjawablah semua pertanyaan beliau selama ini. Yaitu Allah, sang Maha Pencipta Langit dan Bumi, penguasa seluruh semesta ini.
"Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata: "Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada (malapetaka dari) sembahan-sembahan yang kamu persekutukan dengan Allah, kecuali jika Tuhanku menghendaki sesuatu (dari malapetaka) itu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka apakah kamu
tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) ? Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah) padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak mendapat keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui)?'" (QS. al-An'am: 80-81)


"Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukan iman mereka dengan kelaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. " (QS. al-An'am: 82)
"Dan itulah hujah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa darjat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. " (QS. al-An'am: 83)

Ibrahim didukung oleh Allah SWT dan diperlihatkan kerajaan langit dan bumi. Demikianlah proses pencarian dan pergelutan jiwa Nabi Ibrahim dalm mencari keberadaan Tuhan, akhirnya beliau mendapatkan kebenaran yang hakiki.


NB : Salah satu tugas Ilmu Kalam semester 1

Generasi Ekonomi Islam . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates