Pertumbuhan Ekonomi
A.
Pengertian
Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan
ekonomi dapat didefinisikan sebagai perkembangan kegiatan dalam perekonomian
yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksikan dalam masyarakat bertambah.
Masalah pertumbuhan ekonomi dapat dipandang sebagai masalah makroekonomi jangka
panjang. Dari satu periode ke periode lainnya kemampuan suatu negara untuk
menghasilkan barang dan jasa akan meningkat. Menurut Sadono Sukirno kemampuan
yang meningkat ini disebabkan karena faktor-faktor produksi akan selalu
mengalami pertambahan dalam jumlah dan kualitasnya. Investasi akan menambah
jumlah barang modal. Teknologi yang digunakan berkembang. Disamping itu tenaga
kerja bertambah sebagai akibat dari perkembangan penduduk, dan pengalaman kerja
dan pendidikan menambah keterampilan mereka.
Menurut
Boediono (2001: 35), pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan output perkapita
dalam jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi merupakan indikator untuk melihat keberhasilan
pembangunan dan merupakan syarat keharusan ( necessary condition) bagi penurunan
pengangguran . Adapun syarat kecukupannya ialah bahwa pertumbuhan ekonomi tersebut
efektif dalam mengurangi tingkat pengangguran. Artinya, pertumbuhan tersebut
hendaklah menyebar di setiap golongan pendapatan, termasuk di golongan penduduk
miskin. Secara langsung, hal ini berarti pertumbuhan itu perlu dipastikan
terjadi disektor-sektor dimana penduduk miskin bekerja yaitu sector pertanian
atau sector yang padat karya. Adapun secara tidak langsung, diperlukan
pemerintah yang cukup efektif mendistribusikan manfaat pertumbuhan yang mungkin
didapatkan dari sektor modern seperti jasa yang padat modal.
B.
Teori
Pertumbuhan Ekonomi
Teori
pertumbuhan ekonomi menjelaskan mengenai faktor-faktor yang menentukan
pertumbuhan ekonomi dan prosesnya dalam jangka panjang, penjelasan mengenai
bagaimana faktor-faktor itu berinteraksi satu dengan yang lainnya, sehingga
menimbulkan terjadinya proses pertumbuhan (Arsyad, 1992 : 191). Adapun
teori-teori yang menjelaskan tentang pertumbuhan ekonomi diantaranya :
1.
Teori Ekonomi Klasik
Menurut pandangan ahli-ahli
ekonomi klasik ada empat faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, yaitu:
jumlah penduduk, jumlah stok barang-barang modal , luas tanah dan kekayaan
alam, serta tingkat teknologi yang digunakan. Walau menyadari bahwa pertumbuhan
ekonomi tergantung pada banyak aktor, ahli-ahli ekonomi Klasik terutama
menitikberatkan perhatiannya kepada pengaruh pertambahan penduduk kepada
pertumbuhan ekonomi. Dan teori pertumbuhan mereka , dimisalkan luas tanah dan
kekayaan alam adalah tetap jumlahnya dan tingkat teknologi tidak mengalami
perubahan. Berdasarkan kepada pemisalan ini selanjutnya dianalisis bagaimana
pengaruh pertambahan penduduk kepada tingkat produksi nasional dan pendapatan.
Pada permulaannya, apabila
penduduk sedikit dan kekayaan alam relatif
berlebihan, tingkat penegembalian modal dari investasi yang dibuat
adalah tinggi. Maka para pengusaha akan mendapatkan keuntungan keuntungan yang
besar. Ini akan menimbulkan investasi baru, dan pertumbuhan ekonomi terwujud.
Keadaan seperti itu tidak akan terus-menerus berlangsung. Apabila penduduk
sudah terlalu banyak, pertambahannya akan menurunkan tingkat kegiatan ekonomi
karena peroduktivitas setiap penduduk telah menjadi negatif. Maka kemakmuran
masyarakat menurun kembali. Ekonomi akan mencapai tingkat perkembangan yang
rendah. Apabila keadaan ini dicapai, ekonomi dikatakan telah mencapai keadaan
tidak berkembang (stationary State).
Pada keadaan ini pendapatan pekerja hanya mencapai tingkat cukup hidup (subsistence).
Teori
ekonomi klasik mempunyai beberapa ciri-ciri yaitu sebagai berikut:
·
Perekonomian yang didasarkaan pada sistem bebas
berusaha (Laissez Faire) artinya mempunyai kemampuan untuk kembali ke posisi
keseimbangan secara otomatis. Terjadi tangan bebas atau pasar bebas dalam mencapai
keseimbangan sehingga terjadi “full employment” atau kesempatan kerja penuh
(tidak ada pengangguran).
·
Pemerintah tidak ikut campur tangan. Peran pemerintah
hanya pada masalah penegakan hukum, menjaga keamanan serta pembangunan
infrastruktur.
·
Harga barang ditentukan oleh produsen dann konsumen.
·
Tingkat upah ditentukan oleh permintaan dan penawaran
tenaga kerja. Apabila kelebihan tenaga kerja maka akan menurunkan upah, tetapi
apabila kekurangan tenaga kerja maka akanmeningkatkan upah.
2.
Teori Schumpeter
Salah satu pendapat Schumpeter yang
penting adalah landasan teori pembangunannya yaitu keyakinannya bahwa system
kapitalisme merupakan system yang paling baik untuk menciptakan pembangunan
ekonomi yang pesat. Namun demikian, Schumpeter meramalkan secara pesimis bahwa
dalam jangka panjang system kapitalisme akan mengalami kemandegan. Proses perkembangan ekonomi menurut
Schumpeter, faktor utama yang menyebabkan perkembangan ekonomi adalah proses
inovasi dan pelakunya adalah para innovator atau entrepreneur (wiraswasta).
Kemajuan ekonomi suatu masyarakat hanya bisa diterapkan dengan adanya inovasi
oleh para entrepreneur. Dalam membahas perkembangan ekonomi, Schumpeter
membedakan pengertian pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ekonomi.
Menurut Schumpeter pertumbuhan ekonomi adalah
peningkatan output masyarakat yang disebabkan oleh semakin banyaknya jumlah
faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi masyarakat tanpa adanya
perubahan “teknologi” produksi itu sendiri. pembangunan ekonomi adalah kenaikan
out put yang disebabkan oleh inovasi yang dilakukan oleh para wiraswasta.
Inovasi ini berarti perabaikan “teknologi” dalam arti luar, miasalnya penemuan
produk baru, pembukaan pasar baru, dsb.
3. Teori
Harrod-Domar
Harrod-Domar
mengemukakan syarat-syarat yang diperlukan agar pertumbuhan ekonomi dapat
tumbuh dan berkembang dengan mantap atau steady growth dalam jangka
panjang di dalam pertumbuhan mantap semua variabel seperti output, tabungan,
investasi, dan kemajuan teknologi, masing-masing tumbuh secara konstant atau
pada laju yang lurus secara eksponensial.
ΔY / Y = s / k
Dimana:
ΔY / Y = tingkat pertumbuhan
output
Persamaan tersebut merupakan
persamaan Harrod-Domar yang disederhanakan bahwa tingkat pertumbuhan output (
ΔY / Y ) ditentukan secara bersama oleh rasio tabungan (s) dan rasio modal
output (COR = K). Makin tinggi tabungan yang diinvestasikan maka makin tinggi
pula output yang dihasilkan. Sedangkan hubungan antara COR dengan tingkat
pertumbuhan adalah negative (makin besar COR, makin rendah tingkat pertumbuhan
output).
4. Teori Adam
Smith
Adam Smith menyatakan bahwa proses
pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang secara sistematis ada tiga aspek,
yaitu (Arsyad, 1992 : 42) :
a.
Pertumbuhan
Output Total
Sumber
alam yang tersedia (masih diwujudkan sebagai faktor produksi tanah). Menurut
Smith, sumber daya alam yang tersedia merupakan wadah paling mendasar dari kegiatan
produksi suatu masyarakat. Jumlah sumber daya alam yang tersedia merupakan
batas maya bagi pertumbuhan perekonomian, maksudnya jika sumber daya ini belum
digunakan sepenuhnya, maka jumlah penduduk dan stok modal yang ada memegang
peranan dalam pertumbuhan output.
b.
Stok barang modal
Stok modal
menurut Smith merupakan unsur produksi yang secara aktif menentukan tingkat
output. Peranannya sangat sentral dalam proses pertumbuhan output, sehingga
jumlah dan tingkat pertumbuhan output tergantung pada laju pertumbuhan stok
pengaruh stok modal terhadap tingkat output total bisa secara langsung dan
tidak langsung. Pengaruh langsung, maksudnya adalah karena pertambahan modal
akan langsung meningkatkan output, sedangkan pengaruh tidak langsung maksudnya
adalah peningkatan produktifitas perkapita yang dimungkinkan karena adanya
spesialisasi dan pembagian kerja yang semakin tinggi.
c.
Pertumbuhan Penduduk
Menurut Smith yang sangat menentukan
jumlah penduduk pada suatu masa tertentu adalah tingkat upah pada saat itu.
Jika tingkat upah yang berlaku lebih tinggi dari pada tingkat upah subsisten
(tingkat upah yang hanya cukup untuk hidup pas-pasan), maka jumlah penduduk
akan meningkat. Smith juga menyatakan bahwa tingkat upah ditentukan oleh stok kapital
dan tingkat pertumbuhan output. Oleh karena itu jumlah penduduk akan meningkat atau
menurun tergantung pada stok modal dan tingkat pertumbuhan ekonomi pada suatu
masa tertentu.
C.
Faktor-Faktor Yang Menentukan Pertumbuhan
Ekonomi
Adapun Faktor-faktor yang menentukan
pertumbuhan ekonomi diantaranya adalah :
1.
Faktor
Sumber Daya Alam, Sebagian besar negara berkembang bertumpu kepada sumber daya
alam dalam melaksanakan proses pembangunannya. Namun demikian, sumber daya alam
saja tidak menjamin keberhasilan proses pembanguan ekonomi, apabila tidak
didukung oleh kemampaun sumber daya manusianya dalam mengelola sumber daya alam
yang tersedia. Sumber daya alam yang dimaksud dinataranya kesuburan tanah,
kekayaan mineral, tambang, kekayaan hasil hutan dan kekayaan laut.
2.
Faktor
Sumber Daya Manusia, Sama halnya dengan proses pembangunan, pertumbuhan ekonomi
juga dipengaruhi oleh SDM. Sumber daya manusia merupakan faktor terpenting
dalam proses pembangunan, cepat lambatnya proses pembangunan tergantung kepada
sejauhmana sumber daya manusianya selaku subjek pembangunan memiliki kompetensi
yang memadai untuk melaksanakan proses pembangunan.
3.
Faktor
Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang semakin pesat mendorong adanya percepatan proses pembangunan, pergantian
pola kerja yang semula menggunakan tangan manusia digantikan oleh mesin-mesin
canggih berdampak kepada aspek efisiensi, kualitas dan kuantitas serangkaian
aktivitas pembangunan ekonomi yang dilakukan dan pada akhirnya berakibat pada
percepatan laju pertumbuhan perekonomian.
4.
Faktor
Budaya, Faktor budaya memberikan dampak tersendiri terhadap pembangunan ekonomi
yang dilakukan, faktor ini dapat berfungsi sebagai pembangkit atau pendorong
proses pembangunan tetapi dapat juga menjadi penghambat pembangunan. Budaya
yang dapat mendorong pembangunan diantaranya sikap kerja keras dan kerja
cerdas, jujur, ulet dan sebagainya. Adapun budaya yang dapat menghambat proses
pembangunan diantaranya sikap anarkis, egois, boros, KKN, dan sebagainya.
5.
Sumber
Daya Modal, Sumber daya modal dibutuhkan manusia untuk mengolah SDA dan
meningkatkan kualitas IPTEK. Sumber daya modal berupa barang-barang modal
sangat penting bagi perkembangan dan kelancaran pembangunan ekonomi karena
barang-barang modal juga dapat meningkatkan produktivitas.
D.
Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
Dalam bukunya yang berjudul
Sistem Ekonomi Indonesia, Subandi menulis faktor-faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan ekonomi Indonesia secara umum, adalah:
1. faktor
produksi
2. faktor
investasi
3. faktor
perdagangan luar negeri dan neraca pembayaran
4. faktor
kebijakan moneter dan inflasi
5. faktor
keuangan Negara
Sedangkan Tambunan, dalam
bukunya Perekonomian Indonesia, menulis bahwa di dalam teoti-teori
konvensional, pertumbuhan ekonomi sangat ditentukan oleh ketersediaan dan
kualitas dari faktor-faktor produksi seperti SDM, kapital, teknologi, bahan
baku, enterpreneurship dan energi. Akan tetapi, faktor penentu
tersebut untuk pertumbuhan ekonomi jangka panjang, bukan pertumbuhan jangka pendek. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi
Indonesia tahun ini akan lebih baik, sama atau lebih buruk dari tahun
sebelumnya lebih ditentukan oleh faktor-faktor yang sifatnya lebih jangka
pendek, yang dapat dikelompokkan ke dalam faktor internal dan eksternal.
Faktor eksternal didominasi oleh
faktor-faktor ekonomi, seperti perdagangan internasional dan pertumbuhan
ekonomi kawasan atau dunia.
1. Faktor-faktor
Internal
a. Faktor
ekonomi, antara lain:
§ Buruknya
fundamental ekonomi nasional
§ Cadangan
devisa
§ Hutang
luar negeri dan ketergantungan impor
§ Sektor perbankan
§ Pengeluaran
konsumsi
b. Faktor
non ekonomi, antara lain:
§ Kondisi
politik, sosial
dan keamanan
§ Pelarian
modal ke luar negeri
§ Nilai
tukar rupiah
2. Faktor-faktor
Eksternal
§ Kondisi
perdagangan dan perekonomian regional atau dunia
E.
pertumbuhan Ekonomi
Indonesia 5 (2011-2015)
1.
Pertumbuhan ekonomi
indonesia 2011
Sepanjang
2011 lalu Indonesia masih mampu mencatat pertumbuhan ekonomi yang cukup bagus,
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang
2011 lalu sebesar 6,5%. Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2011 tercatat
sebesar 6,5% dengan pembentukan produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga
berlaku mencapai Rp 1.931,3 triliun. Secara kumulatif, PDB Indonesia pada 2011
berdasarkan harga berlaku mencapai Rp 7.427,1 triliun, sedangkan atas dasar
harga konstan sebesar Rp 2.463,2 triliun. pada 2011 lalu terjadi pertumbuhan di
semua sektor ekonomi. Pertumbuhan tertinggi terjadi di sektor pengangkutan dan
komunikasi yang tumbuh 10,7%, sektor perdagangan, hotel dan restoran tumbuh
9,2%, sedangkan sektor keuangan, real estate dan jasa perusahaan tumbuh 6,8%.
2.
Pertumbuhan
ekonomi indonesia 2012
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat
pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2012 sebesar 6,23 persen. Angka
tersebut turun dibandingkan sepanjang 2011 sebesar 6,5 persen. Penurunan ini
disebabkan sektor pertanian mengalami penurunan cukup signifikan sebesar 23,06
persen karena siklus musiman. Pertumbuhan terjadi di semua sektor ekonomi
dengan pertumbuhan tertinggi di sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 9,98
persen dan terendah di sektor pertambangan dan penggalian 1,49 persen.
Sementara PDB tanpa migas tahun 2012 sebesar 6,81 persen. Jumlah total produk
domestik bruto (PDB) sepanjang 2012 adalah Rp 8.241,9 triliun, sementara Atas
Dasar Harga Berlaku (ADHB) adalah Rp 2.618,1 triliun. Dari sisi komponen
pertumbuhan ekonomi di 2012 adalah konsumsi tumbuh 5,28 persen, belanja pemerintah
1,25 persen, pembentukan modal tetap bruto atau investasi tumbuh 9,8 persen,
ekspor tumbuh 2,01 persen dan impor 6,65 persen. Pertumbuhan ekonomi tersebut
juga dipengaruhi oleh adanya moratorium PNS, sehingga belanja pemerintah tidak
terlalu tinggi. Ekspor memang rendah sehingga terjadi defisit. Jadi penopang
utama pertumbuhan ekonomi 2012 berasal dari konsumsi dan investasi.
3. Pertumbuhan ekonomi indonesia 2013
Pertumbuhan ekonomi Indonesia terus
turun. Setelah mencapai pertumbuhan ekonomi 6,5 persen pada 2011, dan 6,23
persen pada 2012, pertumbuhan ekonomi 2013 berada dibawah 6 persen. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat
pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2013 sebesar hanya 5,78 persen. Angka
tersebut turun dibandingkan sepanjang 2013 sebesar 6,23 persen. Lebih lanjut
dia mengatakan, pertumbuhan terjadi di semua sektor ekonomi dengan pertumbuhan
tertinggi di sektor pengangkutan dan komunikasi sebesar 10,19 persen, dengan
nilai Rp 292,4 triliun. Berturut-turut disusul sektor keuangan, real estate dan
jasa perusahaan dengan pertumbuhan 7,56 persen, dengan nilai Rp 272,1
triliun. Sektor ketiga yang mengalami pertumbuhan signifikan adalah
konstruksi, di mana mencatat pertumbuhan 6,57 persen dengan nilai Rp 182,1
triliun. Sementara itu pertumbuhan sektor pertambangan dan penggalian
tercatat paling kecil sebesar 1,34 persen dengan nilai Rp 195,7 triliun
4. Pertumbuhan ekonomi Indonesia 2014
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi
Indonesia pada tahun 2014, dengan tahun dasar 2010 sebesar 5,02 persen. Hal itu
tidak sesuai dengan target pemerintah, yang mematok pertumbuhan ekonomi
sepanjang 2014 mencapai 5,5 persen. Pertumbuhan pertanian dibanding 2013
sedikit menurun tapi masih stabil, dipicu subsektor perkebunan, di mana masih
ada permintaan tinggi meski harga CPO turun. Perikanan dan hortikultura masih
cukup bagus, sehingga masih stabil.
5.
Pertumbuhan
Ekonomi Indonesia 2015
Triwulan 1:
Perekonomian Indonesia yang diukur
berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku
triwulan I-2015 mencapai Rp2.724,7 triliun dan atas dasar harga konstan 2010
mencapai Rp2.157,5 triliun.
Ekonomi Indonesia triwulan I-2015 terhadap triwulan I-2014 tumbuh 4,71 persen (y-on-y) melambat dibanding periode yang sama pada tahun 2014 sebesar 5,14 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi sebesar 10,53 persen. Dari sisi Pengeluaran oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga yang tumbuh 5,01 persen.
Ekonomi Indonesia triwulan I-2015 terhadap triwulan sebelumnya turun sebesar 0,18 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, pertumbuhan ini diwarnai oleh faktor musiman pada Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang tumbuh 14,63 persen. Sedangkan dari sisi Pengeluaran lebih disebabkan terkontraksinya kinerja investasi (minus 4,72 persen) dan ekspor (minus 5,98 persen).
Struktur ekonomi Indonesia secara spasial pada triwulan I-2015 didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Kelompok provinsi di Pulau Jawa memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto, yakni sebesar 58,30 persen, diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 22,56 persen, dan Pulau Kalimantan 8,26 persen
Ekonomi Indonesia triwulan I-2015 terhadap triwulan I-2014 tumbuh 4,71 persen (y-on-y) melambat dibanding periode yang sama pada tahun 2014 sebesar 5,14 persen. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Lapangan Usaha Informasi dan Komunikasi sebesar 10,53 persen. Dari sisi Pengeluaran oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga yang tumbuh 5,01 persen.
Ekonomi Indonesia triwulan I-2015 terhadap triwulan sebelumnya turun sebesar 0,18 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, pertumbuhan ini diwarnai oleh faktor musiman pada Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan yang tumbuh 14,63 persen. Sedangkan dari sisi Pengeluaran lebih disebabkan terkontraksinya kinerja investasi (minus 4,72 persen) dan ekspor (minus 5,98 persen).
Struktur ekonomi Indonesia secara spasial pada triwulan I-2015 didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera. Kelompok provinsi di Pulau Jawa memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto, yakni sebesar 58,30 persen, diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 22,56 persen, dan Pulau Kalimantan 8,26 persen
BAB II
PENUTUP
A. Kesimpulan
Perekonomian indonesia dari tahun 2011 sampai tahun 2015 terus mengalami penurunan. Penurunan ini
disebabkan oleh faktor-faktor tertentu dalam perekonomian. Faktor tersebut
terdiri dari faktor yang mempengaruhi dan faktor-faktor yang menentukan
pertumbuhan ekonomi tersebut. Faktor yang mempengaruhi antara lain ; faktor
produksi, investasi , perdagangan luar negeri , neraca pembayaran , kebijakan
moneter , inflasi , dan keuangan negara. Selanjutnya faktor yang menentukan
pertumbuhan ekonomi antara lain ; faktor SDA , SDM , Iptek , budaya , dan
sumber daya modal. Dan juga kondisi
perekonomian global mempengaruhi perekonomian indonesia seperti yang terjadi
pada tahun 2011 silam. Kita patut bersyukur karena dalam krisis tersebut
perekonomian indonesia masih mampu
tumbuh sebesar 6.5 persen. Akan tetapi pertumbuhan ekonomi indonesia
tahun-tahun berikutnya terus mengalami penurunan yaitu berturut-turut , 6,23
persen pada tahun 2012, 5,78 persen pada tahun 2013, dan 5.02 persen pada tahun
2014.
B.
Saran
Setelah melihat pertumbuhan ekonomi di Indonesia khususnya 5
tahun terakhir ini terlihat jelas bahwa pertumbuhan ekonomi di Indonesia
mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Masalah ini adalah masalah kita
bersama, masyarakat Indonesia pada umumnya. Oleh karena itu penulis disini menyarankan kepada kita semua untuk turut
bergerak ikut serta mendongkrak pertumbuhan ekonomi di Indonesia supaya terjadi
peningkatan melalui kegitan ekonomi yang positif. Kerjasama pemerintah, swasta
dan masyarakat sangat diperlukan. Juga kita sebagai mahasiswa yang memegang
peranan penting untuk kemajuan bangsa ini.
DAFTAR PUSTAKA
Sukirno, Sadono ; Buku pengantar makro
ekonomi
Subandi ; Buku sistem perekonomian indonesia
Tambunan ; Buku perekonomian
indonesia
http://yuyunchelsea.wordpress.com/2011/03/02/pengertian-dan-ekonomi-dan-perekonomian-indonesia/
http://aaanaaaulll.blogspot.com/2012/03/sistem-perekonomian-indonesia-saat-ini.html
http://chelsy-yurista.blogspot.com/2011/03/sistem-ekonomi-indonesia-saat-ini.html
http://aaanaaaulll.blogspot.com/2012/03/sistem-perekonomian-indonesia-saat-ini.html
http://chelsy-yurista.blogspot.com/2011/03/sistem-ekonomi-indonesia-saat-ini.html
